Unknown
iya kan
dan kemudian, aku lebih tak mengerti
apa sebenarnya yang harus dituangkan dalam lembar kertas putihku ini
kerena yang terjadi begitu tak teratur
aku sendiri entah mengerti atau tidak
apa sesungguhnya yang mereka pikirkan tentang ku

saat senja tak mau muncul
namun tubuh telah tergolek lemas tak ada daya
mauku menghembuskan nafas ini lebih lama lagi
lelah ku merasanya
terus bergejolak hati ini
harus tegar yang seperti apa lagi
tak ada yang memperjelas
apa hanya aku yang tak dapat mengerti dengan jelas

aku kah bersalah
melakukan ini semua diawal cerita
lalu terlena dan saat dipertengahan aku terlempar
hingga kapan ini terjadi
lalu kapan aku dapat tersadar dari semua ini
kemudian terbangun
menjadi sosok yang memahami seluruh yang ada di depan mata

beranggap mengerti karena memang aku mengerti sepenuhnya
sampai pada akhirnya aku dapat berdiri
berjalan dan mulai berlari

muncul anggapan yang kemudian menyeruak
terlalu perih kuping ini kemudian mendengar
dan lalu ku menutupnya dengan kedua tanganku
namun masih saja terdengar
apa karena kurang rapat tangan ini menutup
tapi ku rasa sudah cukup besar tangan ini menutup kuping ku
namun kenapa anggapan itu masih saja terdengar memerihkan
apa karena hati yang merasa
bukan,,,,bukan kuping yang merasa hanya mendengar
dan tak mengerti



*Tsalisa Yuliyani
Unknown
lubangnya dibiarkan tetap seadanya
dan mereka datang dengan tiba-tiba
sesaat setelah langit berubah suasana

yang putih lalu abu-abu
bukan seragam mereka yang berlabelkan siswa SMA
tapi ada yang rindu dengan bumi
lalu dengan ucapan salam
datang dan melumpuhkan segala kerinduan

segala yang terpendam lalu tercurahkan
setelah dengan penuh kesungguhan
turun berbondong dan membasahi
mengisi lubang yang terbiarkan tak teranggapkan

meski tak mengartikan
karena datar jadi tak mengalir
tetap berdiam, dan tak bersikap sekecilpun perkara
mengubahnya menjadi danau
yang kecil namun dari kerinduan

berarti tak berartinya
bukan hal yang harus dipertentangkan
akankah mendayagunakannya
atau membiarkan
lalu yang menginginkan darah menjadikannya naungan
lalu menyesal karena terlambat
menjadi lubang yang menyakitkan



*Tsalisa Yuliyanti