Unknown
Zaman yang mencekam, yang bertubi-tubi memukul kondisi bumi pertiwi. Belum merdeka pada zaman itu, terasa kejam dan kebaikan tak lagi dihiraukan hanya karena ambisi yang begitu tinggi dan hati nurani dimasukan kedalam lubang kaos kaki jatuh tepat di bawah telapak kaki kemudian melangkah, berjalan dan berlari, hati nurani diinjak-injak namun masih menempel di kaki kemudian dibasuhlah kaki itu dengan air yang katanya suci yang menghilangkan hati nurani seakan-akan adalah najis yang begitu besar. Zaman itu pun yang mengantarkan aku yang selalu dipanggil para pejuang negeri dengan sebutan dokter Hadijah kedalam ruang pengap berdebu dengan kerangkeng kuat menghalangi kebebasan. Tak sendiri aku ter-kerangkeng, dua sosok wanita yang luar biasa Ibu Gayatri dengan mengenakan kebaya yang begitu cantik dan pudar ketika kerangkeng memberikan sekat dengan dunia luar ada juga Sri, gadis yang dengan berani membantah perintah kompeni yang kemudian diancamlah keluarganya untuk dibunuh serta dimasukannya Sri ke dalam kerangkeng dalam waktu yang tak terbatas.
Dalam suasana kerangkeng yang gelap dan pengap aku hanya ingin berdiam, mengikhlaskan semua yang telah aku alami namun dalam hati ada kekecewaan. Aku tak menghiraukan apapun yang diucapkan Ibu Gayatri dan Sri. Aku hanya ingin berdiam namun, telinga ini masih terus mengantarkan masuk suara ucapan ke dalam sensor otak.
“Seandainya aku bisa memilih, aku tak ingin dalam zaman seperti ini, zaman ini terlalu sadis, brutal dan kejam bagi perempuan. Penjahat dan pahlawan, kawan dan lawan sudah tidak bisa lagi aku bedakan, tanahku dalam jengkal-jengkalmu tak habis,sisa-sisa perjuangan yang tak terbatas. Aku mencintaimu walau sosok melebur pada tanah” Ibu Gayatri yang dengan lantang mengatakan hal demikian.
Kupingku merasa gatal mendengar hal itu, aku masih dalam kondisiku yang kecewa dan terdiam.
“Tolong….tolong….jangan siksa aku, jangan masukan aku ke dalam kerangkeng itu” suara jeritan seorang perempuan baru penghuni kerangkeng, yang kemudian mengagetkan dan membuat ku ketakutan bahkan Ibu Gayatri dan Sri pun juga merasakan ketakutan itu terlihat dari gerak tubuh dan wajahnya yang persis dengan ku.
Dua orang kompeni menarik tangan perempuan itu dengan kuat dan menyakitkan. Dimasukanlah perempuan itu ke dalam kerangkeng bersama kami bertiga. Suara teriakan dan tangisan perempuan itu selalu menggangguku, aku tak menghiraukan. Kemudian, Sri dengan wataknya yang lemah lembut dan penyabar mencoba menenangkan perempuan itu yang ternyata bernama Ranti. Perempuan yang berani menentang kompeni kemudian disiksa dan dimasukan ke dalam kerangkeng serta diancam suami dan anaknya akan dibunuh jika Ranti tidak mengikuti keinginan kompeni. Ternyata Ranti di dalam kerangkeng begitu menggebu dan memaksa bahwa dia ingin keluar, bukan hanya dia akupun tak berbeda. Dia menyusun sebuah strategi untuk bisa kabur dari ruang pengap ini. Aku meragukan strategi yang diusulkan Ranti, sampai aku dengan terpaksa menceritakan rasa kecewa yang aku miliki dari sebelum masuk ke dalam kerangkeng.
Kekecewaan itu aku rasakan dari sikap pejuang negeri. Ketulusan dalam hati untuk membantu dengan caraku mengobati dan memeriksa keadaan pejuang negeri, namun tidak merasakan dihargai oleh mereka. Aku merasa bahwa seorang dokter hanya di butuhkan ketika ada yang sakit, entah dibutuhkan atau tidak ketika dalam kegembiraan. Hanya cakap besar yang aku rasa dari para perempun yang menginginkan kebebasan. Terlalu arogan, tak memikirkan baik buruknya, dengan kecewaku yang masih menggumpal di dalam dada. Ibu Gayatri dan Sri yang terlebih dahulu bersamaku dalam kerangkeng menyetujui usul Ranti, bahkan Ibu Gayatri menyampaikan usulanya juga, “halah” dalam hatiku tak meyakininya. Namun, kerena keinginanku juga yang ingin bebas dari kerangkeng busuk aku iya kan saja usul mereka. Perempuan dalam kerangkeng kini sudah memiliki srategi yang bagus dan cerdas untuk membebaskan diri. Tumbuh semangat dalam jiwa kami, terlebih dari senyum yang merekah seakan kebahagiaan di depan mata.
Hal yang mencengangkan dan memubuat ku, ibu Gayatri dan Sri kaget. Tiba-tiba, Ranti berteriak dengan lantangnya memanggil kompeni yang menjaga kerangkeng dan menceritakan maksud kami semua yang sudah mengatur strategi untuk bisa membebaskan diri dari kerangkeng. Dengan lantang dia membeberkan semua rahasia Ibu Gayatri bahwa masih ada pejuang negeri yang bersembunyi dalam goa. Rasa kecewaku semakin bertambah lagi terutama kekecewaanku terhadap anak negeri dengan sikap picik yang ditunjukan Ranti. Kompeni pun masuk dalam kerangkeng dengan membawa aku, Ibu Gayatri dan Sri keluar dari kerangkeng dan diancam untuk dibunuh.
“Dasar perempuan biadab”, dalam hati kekecewaanku terus bertambah.
Tapi, keadaan yang tak bisa memaksaku untuk memunculkan rasa itu. Hanya pasrah yang dapat kami rasakan terhadap segala keputusan entah itu dibunuh ataupun diselamatkan. Ranti, yang ku anggap perempuan biadab, kurasa lebih merasakan kekecewaan. Ranti membeberkan strategi kami keluar dari penjara bukan tanpa tujuan, tapi dia ingin membebaskan suami dan anaknya yang ternyata juga di tahan kompeni dan diancam akan dibunuh.

Ternyata kompeni itu mengatakan kepada Ranti bahwa Ranti sudah terlambat beberapa menit. Suami dan anaknya telah dibunuh. Dia sudah menuruti semua yang diinginkan kompeni, Ranti mencari tahu informasi-informasi yang sekiranya bisa didapatkan dari ketiga perempuan yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kerangkeng termasuk aku kemudan membeberkan semua rencana kami. Apapun itu alasannya, tetap saja kekecewaanku terus mengakar dalam hati, mungkin Ibu Gayatri dan Sri juga merasakan hal demikian. Teriakan Ranti atas kekecewaannya, masih terdengar keras saat aku bersama ibu Gayatri dan Sri dibawa keluar dari kerangeng.

Tsalisa Yuliyanti
Unknown
Membangunkan, mata menyipit silau
Matahari menyambut dengan terangnya
Berdiri membuka jendela
Kau ada dengan wajah cerah mempesona

Kau kakak ibuku
Dengan rambut panjangmu
Membentuk gulungan yang memikat

Halaman di depan matamu
Kau singkirkan belenggu yang mengganggu
Kau tata rapi, sampai kupu pun menyukai

Kau kakak ibuku
Menetes keringat di samping wajahmu
Kau mungkin lelah
Tapi, lihatlah halamanku sedap dalam pandangan

Terlihat kau mengusap wajahmu
Dengan bibir mempesona

Tersenyum manis


Tsalisa Yuliyanti
Label: 1 komentar | edit post
Unknown
Dari hutan,
Teduh, sejuk  menyejukan mata dan hati
Fakultas Bahasa dan Seni
Tertulis di depan mata saat ini

Keringat mulai bercucur kencang
Hutan sudah tak lagi ku pijaki
Nampak tongkat di depan mata
Warnanya putih, bisakan ku pegang dengan jemari
Lalu mengangkat sampai tunggi

Namun tak bisa,
Tongkat itu kokoh, bukan kayu
Ia besi

Tepat di atasku adalah sang surya
Gema adzan berkumandang
Keringat mongering, namun masih banjir di pipi
Menengadah kepalaku ke atas

Kain berkibar jauh di atas ubun-ubun
Angin kau mambawa
Merah putih, melindungiku

Merah putih


Tsalisa Yuliyanti
Label: 2 komentar | edit post
Unknown
Ketika sepatu kecil memopong tubuh ini
Lalu kaki membawanya memalui keramik berdebu

Jalan, nampak seperti terowongan
Namun tak bersekat
Hanya tiang yang berjejer
Bagai among yang sedia mematuhi inginya tamu agung

Terus berjalan melihat ke arah langit
Bukan biru putih yang menyegarkan mata
Nampak tercoreng kehalusannya
Langit berlobang di bawah genting
Kenapa?

Kaki melangkah dengan keheranan yang terpikir
Terowongan itu memilukan

Lalu Terowongan memilukan berlalu
Berdiri tegak kokoh dan penuh kebanggaan
Unggu warnamu

Apakah itu?


Tsalisa Yuliyanti
Label: 0 komentar | edit post
Unknown
Akulah Syech Atas Angin
Ajaran Islam kan ku sebarkan
Dalam hati terjanjikan
Hanya bagi-Mu wahai Tuhan

Kaki ini terus ku langkahkan
Terhenti sejenak karena cahaya itu
Begitu terang dan menyilaukan
Kaki bergegas mengikutinya
Bukit telah kau pijaki sekarang
Lalu mata tertuju pada seseorang

Sang pengelana, terduduk diam tak bertanda
Menantangku dan mengadu kekuatanku

Kau pengelana tak dari hati
Kuatya hanya nafsu
Kalah adu denganku

Satu jalan akhir bagimu pengelana
Bagimu jambukarang

Tunduk dan memeluk Islam


Tsalisa Yuliyanti 
Label: 0 komentar | edit post
Unknown
Terdiam duduk
Tubuh ini terduduk diam
Mata terpejam, tangan ini erat menggenggam
Mulut komat-kamit, dalam hati doa terpanjatkan

Aku tolak kau wahai tahta
Aku tolak kau wahai jabatan
Aku tolak kau wahai kekuasaan
Dan aku adalah pemimpin kalian
Wahai Nasrani

Terbuka mata
Berdiri tegap bagai sang pendekar
Namun tubuh terseret
Nur…nur…nur…yang terpancar dari timur
Ardilawet di depan mata
Ardilawet ku pijaki sekarang

Dan aku kembali

Terdiam duduk
Tubuh ini terduduk diam
Mata terpejam, tangan ini erat menggenggam

Mulut komat-kamit, dalam hati doa terpanjatkan


Tsalisa Yuliyanti
Label: 0 komentar | edit post
Unknown

Kepada pagi yang mendamaikan, isyarat mulia selalu kau curah wahai Duham. Lelaki dengan tanda hitam tepat di bawah matanya, menggambarkan keagungan Tuhan terbersit setitik keindahan yang tak semua insan memahami makna tersirat yang menjelma di baliknya. Matanya yang bulat selalu memberikan ketegasan entah bagi mereka yang bertahta maupun yang dianggap tak berguna. Omong kosong, kesombongan selalu menjelma diantara mereka yang bertahta. Kami mengerti budak tak berguna dan menjijikan. Pakaian kami terlalu lusuh dengan jubbah panjang berbulu dan kasar, warnanya hitam pekat namun kini menjadi kecoklatan dan dipenuhi jejak tangan yang berlumur tanah. Kami adalah budak namun dahulu, dan sekarang tepatnya adalah mantan budak. Tak perduli orang bertahta selalu menarikan lidahnya dengan tarian yang biadab dan sekonyong-konyong. Namun, kamilah sahabat Duham yang baik hati. Duham lelaki yang selalu kami hormati dengan segala polah yang dia kerjakan, mantan budak membantunya dalam ranah kemuliaan.
Pagi hari, Duham dan kami para mantan budak berkumpul dan saling berbagi cerita tentunya cerita kami masing-masing entah ketika dalam masa kelam sebagai budak serta perjuangan Duham yang selalu bertahan dalam kemuliaan tentunya dengan kemelut yang selalu ia temui di jalan.
“Wahai sahabatku, saat pagi yang memikat ini syukur kita pada Tuhan Yang Maha Pemurah senantiasa kita lantunkan entah itu dengan lisan kita atau pun dalam hati tulus kita” Ucap Duham, dengan senyuman dan ketegasan yang terpancar dari wajah dan tarian bibirnya.
“Duham, sahabatku. Mengapa engkau mau memahami mantan budak seerti kami, tak ada arti penting yang dapat kau gali dari diri kami, tak ada gunanya Duham.” Pertanyaan yang seraya ku lontarkan di depan Duham dan sahabat ku yang lain. Dengan penuh keingintahuanku atas semua polah Duham pada kami.
Dumah dengan lantang menjawab. “Sahabat tak kucari dalam kegembiraanku, tapi sahabat kucari dalam ruang kesadaran hati dan firasat, kalian tentunya menginginkan arti dan makna sahabat pun juga dengan aku, arti dan makna bukan dari apa yang kalian lakukan sebelum ini tapi apa yang kalian lakukan untuk memperbaiki yang salah dan meneruskan perjuangan dalam kebenaran.”
Saat duduk bersama dalam kehangatan teh di pagi hari, kami dapat belajar tentang arti dan makna dari sahabat dalam memperbaiki semuanya. Duham ingin memperkenalkan kami dengan sahabat barunya. Setelah kami mendengar perkataan Duham tadi, kami pun bersemangat untuk mau bertemu dengan sahabat baru.
“Ada yang mengetok pintu nampaknya.” Salah seorang mantan budak (sahabat Duham) memberi tahu kami yang sedang asik berbincang.
Assalamualaikum, Duham… kami Sahibmu, Ali dan Salman.
Ali dan Salman, nama yang cukup bagus bagi insan tuhan. Enatah apa yang akan kami lihat nanti sekilas tentang sahabat Duham itu. Lalu, Aku tersentak melihat Duham menahan kami untuk membukakan pintu, Duham dengan kerendahan hatinya berjalan menuju pintu dan membukakan pintu agar kedua sahabatnya bisa masuk ke dalam rumahnya. Lebih tersentak lagi aku melihat kedua sahabat Duham itu masuk dengan langkah yang tegas dan pasti, wajahnya terbalut topeng menyejukan dengan kumis tipis dan dagu di penuhi bulu hitam yang tak panjang. Aku melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala kedua sahabat Duham mengenakan pakaian mewah dan bersih, aku pastikan harganya pun mahal dan tak mampu kami menjangkaunya.
Kami lalu berdiri dan mendekat pada kedua sahabat nabi yang berjubah mewah Ali dan Salman. Tak sempat kami melangkahkan kaki dan mendekat kepada Duham dan kedua sahabatnya, raut muka Ali dan Salman nampak terlihat beda dan melihat kami bagai orang asing yang tak ingin mereka kenal. Tak ada pikiran buruk di hati sahabatku yang lain (mantan budak), pikirankulah yang memunculkan anggapan itu. Memang aku yang tak melanjutkan untuk melangkah, namun semua sahabatku mendekati Ali dan Salman ynag saat itu bersama dengan Duham di dekat pintu rumah Duham.
“jangan lanjutkan langkah kalian!”.
Bukan hanya aku, melainkan semua sahabatku yang saat itu mendekati Ali dan Salman, pun dengan Duham merasa terkejut saat Ali mengetakan hal demikian.
“Kenapa kau bicara seperti itu Ali?” tanya Duham heran dengan sikap Ali.
“Siapa mereka, Duham? Tanya Ali
“Iya, siapa mereka, Duham? Kenapa mereka ada di Rumahmu? Baju mereka sangat lusuh.” Tanya Salman dengan menilai buruk sahabat Duham yang merupakan bekas Budak.
“Mereka sahabatku, mereka dulunya adalah budak, namun kerena kegigihan mereka untuk mau berubah dengan kehidupan yang baik lagi, mereka akhirnya bisa melepaskan diri dari perbudakan itu, dan melalui niat dan usaha, kami juga ingin sekali mengembangkan usaha yang jika berhasil nantinya, bukan hanya untuk terus mengembangkan usaha kita dengan mendirikan cabang-cabang namun nantinya aka nada alokasi tersendiri bagi anak yatim dan sekolah-sekolah yang masih belum layak, seperti itu wahai Ali dan Salman.” Jelas Duham mengenalkan kami secara umum dan rencana yang akan kami lakukan.
“Budak?” terkejutnya Ali mendengar pernyataan Duham
“wahai Duham apakah kau yakin dengan semua niatmu? Bagaimana caranya kau bisa melakukan hal demikian yang hanya bekerja sama dengan para mantan budak seperti mereka? Mungin saja jika kau dan hanya kau tanpa mereka mau bekerja sama dengan kami, yang jelas-jelas dapat memberikanmu modal dan kau bisa sukses jika kau mau mengembangkannya.” Tutur Salman.
Terkejut lagi-lagi kami rasakan dengan tuturan kedua sahabat Duham itu, kami merasa tak dihargai dan dianggap tak ada nilainya di mata Ali dan Salman. Kami memang mantak budak tapi kami tak serendah yang mereka ucapkan.
            Duham tentu terkejut dengan kedua sahabatnya itu, awalnya memang kami akan meminta bantuan kepada Ali dan Salman, namun setelah mendengar ucapan Salman, Duham terdiam dan ia berkata  “ memang pada awalnya kalian yang kami harapakan untuk membantu kami, kami menyadari bahwa tak bisa hanya dengan modal nekad usaha kami akan berhasil, tapi jika kalian tak sudi membantu kami, tak apa, mungkin kan ada jalan lain nantinya. Ya sudah, lebih baik kita duduk terlebih dahulu dan membicarakan semua ini, jangan sambil berdiri di dekat pintu seperti ini. Mari Ali, Salman silakan duduk.”
Ali menahan kami untuk duduk, lalu dia berkata “wahai Duham, alangkh lebih baiknya jika kau ingin membahas lagi mengenai usahamu tadi, buatlah kelompok sendiri antara aku, kami dan Salman dan mereka pun bisa membuat kelompok sendiri.”
Salman melanjutkan pembicaraan “iya, betul sekal, jadi kalau kita membuat kelompok sendiri bertiga, aku yakin kita pasti akan menuai kesuksesan yang besar.
            Duham tetap duduk bersama sahabatnya (mantan budak), mendengar ucapan Ali dan Salman kami tetap duduk, meskipun Ali dan Salman kesal karena pendapatnya tak di gubris oleh Duham dan kami, akhirnya kata-kata kasar keluar dari mulut Ali dan Salman.
“Kenapa Duham, kau tak menggubris omongan kita, kenapa kau lebih memilih mereka dari pada kami, pasti otak mu sudah di racuni oleh budak-budak itu.” Salman.
Saat itu Duham hanya ingin terdiam. “wahai budak yang menjijikan, buruk rupa, jubahmu lusuh, racun apa yang kau berikan kepada Duham, hingga dia seperti ini? Dasar budak-budak tak berguna, tolol, goblok.” Ali yang kemudian meludah di depan sahabat Duham.
Lalu Ali dan Salman meninggalkan kami tentunya dengan penuh emosi. Kami semua yang berada di rumah Duham hanya bisa terdiam. Sekilas aku melihat Duham tertunduk dan menetes setitik air dari matanya. Aku mendekat Duham dan memeluknya. Kemudiam Duham mengusap air matanya.
“kita harus tetap maju dengan niat kita yang awal, usaha kita mulai dari sekarang dan jangan lupa berdoa, tanpa merekapun kita bisa.” Senyuman mengembang di bibir Duham.
“Tapi Duham, bagamana caranya, aku merasa tak semangat dan taka da gairah lagi setelah kejadan ini.” Salah satu sahabat Duham (mantan budak).
Kemudian Duham menjawab dengan lantang “Bukalah cermin hati kita lagi. Turunlah kita ke bawah. Tengoklah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran kasih sayang kita. Kalau hati terasa berat, andaikata kultur tak mengizinkan kita berbuat hal itu, manakala ego terasa meningkat, bukankah paling tidak kita ganti rasa hormat yang seharusnya kita berikan dengan kasih sayang pada mereka. Bila kita tak mau mencium tangan mereka, maukah kita untuk paling tidak menyisihkan sebagian rezeki yang kita peroleh sebagai rasa sayang kita pada mereka.”
            Satu tahun kemudian, usaha kami meningkat pesat, kami malah sudah mendirikan yayasan social yang bernama SAHIBUNDUHAM. Suatu pagi saat mengerjakan tugas, sekilas aku melihat televisi dan ada berita perampokan di rumah dan ternyata yang mengalami perampokan adalah rumah Ali dan Salman.

            Begitu tak ada kekalnya yang kita miliki sekarang, tak ada gunanya jabatan yang kita sandang sekarang. Mulut kita, hati kita dan tindakan kita jangan kau dasari dari jabatan dan harta yang kita miliki sekarang. Satu detik kemudian tak ada yang tau apa yang terjadi. Bukan dengan modal yang cukup da melimpah usaha kita akan berhasil. Tapi dari niat kita yang bulat dan usaha sekecil apapun dapat mengubah yang ada di sekeliling kita, tentunya menjadi yang lebih baik. 

Tsalisa Yuliyanti