Kepada
pagi yang mendamaikan, isyarat mulia selalu kau curah wahai Duham. Lelaki
dengan tanda hitam tepat di bawah matanya, menggambarkan keagungan Tuhan
terbersit setitik keindahan yang tak semua insan memahami makna tersirat yang
menjelma di baliknya. Matanya yang bulat selalu memberikan ketegasan entah bagi
mereka yang bertahta maupun yang dianggap tak berguna. Omong kosong,
kesombongan selalu menjelma diantara mereka yang bertahta. Kami mengerti budak
tak berguna dan menjijikan. Pakaian kami terlalu lusuh dengan jubbah panjang
berbulu dan kasar, warnanya hitam pekat namun kini menjadi kecoklatan dan
dipenuhi jejak tangan yang berlumur tanah. Kami adalah budak namun dahulu, dan sekarang
tepatnya adalah mantan budak. Tak perduli orang bertahta selalu menarikan
lidahnya dengan tarian yang biadab dan sekonyong-konyong. Namun, kamilah
sahabat Duham yang baik hati. Duham lelaki yang selalu kami hormati dengan
segala polah yang dia kerjakan, mantan budak membantunya dalam ranah kemuliaan.
Pagi
hari, Duham dan kami para mantan budak berkumpul dan saling berbagi cerita
tentunya cerita kami masing-masing entah ketika dalam masa kelam sebagai budak serta
perjuangan Duham yang selalu bertahan dalam kemuliaan tentunya dengan kemelut
yang selalu ia temui di jalan.
“Wahai
sahabatku, saat pagi yang memikat ini syukur kita pada Tuhan Yang Maha Pemurah
senantiasa kita lantunkan entah itu dengan lisan kita atau pun dalam hati tulus
kita” Ucap Duham, dengan senyuman dan ketegasan yang terpancar dari wajah dan
tarian bibirnya.
“Duham,
sahabatku. Mengapa engkau mau memahami mantan budak seerti kami, tak ada arti
penting yang dapat kau gali dari diri kami, tak ada gunanya Duham.” Pertanyaan
yang seraya ku lontarkan di depan Duham dan sahabat ku yang lain. Dengan penuh
keingintahuanku atas semua polah Duham pada kami.
Dumah
dengan lantang menjawab. “Sahabat tak kucari dalam kegembiraanku, tapi sahabat
kucari dalam ruang kesadaran hati dan firasat, kalian tentunya menginginkan
arti dan makna sahabat pun juga dengan aku, arti dan makna bukan dari apa yang
kalian lakukan sebelum ini tapi apa yang kalian lakukan untuk memperbaiki yang
salah dan meneruskan perjuangan dalam kebenaran.”
Saat
duduk bersama dalam kehangatan teh di pagi hari, kami dapat belajar tentang
arti dan makna dari sahabat dalam memperbaiki semuanya. Duham ingin memperkenalkan
kami dengan sahabat barunya. Setelah kami mendengar perkataan Duham tadi, kami
pun bersemangat untuk mau bertemu dengan sahabat baru.
“Ada
yang mengetok pintu nampaknya.” Salah seorang mantan budak (sahabat Duham)
memberi tahu kami yang sedang asik berbincang.
Assalamualaikum,
Duham… kami Sahibmu, Ali dan Salman.
Ali
dan Salman, nama yang cukup bagus bagi insan tuhan. Enatah apa yang akan kami
lihat nanti sekilas tentang sahabat Duham itu. Lalu, Aku tersentak melihat
Duham menahan kami untuk membukakan pintu, Duham dengan kerendahan hatinya
berjalan menuju pintu dan membukakan pintu agar kedua sahabatnya bisa masuk ke
dalam rumahnya. Lebih tersentak lagi aku melihat kedua sahabat Duham itu masuk
dengan langkah yang tegas dan pasti, wajahnya terbalut topeng menyejukan dengan
kumis tipis dan dagu di penuhi bulu hitam yang tak panjang. Aku melihat dari
ujung kaki sampai ujung kepala kedua sahabat Duham mengenakan pakaian mewah dan
bersih, aku pastikan harganya pun mahal dan tak mampu kami menjangkaunya.
Kami
lalu berdiri dan mendekat pada kedua sahabat nabi yang berjubah mewah Ali dan
Salman. Tak sempat kami melangkahkan kaki dan mendekat kepada Duham dan kedua
sahabatnya, raut muka Ali dan Salman nampak terlihat beda dan melihat kami
bagai orang asing yang tak ingin mereka kenal. Tak ada pikiran buruk di hati
sahabatku yang lain (mantan budak), pikirankulah yang memunculkan anggapan itu.
Memang aku yang tak melanjutkan untuk melangkah, namun semua sahabatku
mendekati Ali dan Salman ynag saat itu bersama dengan Duham di dekat pintu
rumah Duham.
“jangan
lanjutkan langkah kalian!”.
Bukan
hanya aku, melainkan semua sahabatku yang saat itu mendekati Ali dan Salman,
pun dengan Duham merasa terkejut saat Ali mengetakan hal demikian.
“Kenapa
kau bicara seperti itu Ali?” tanya Duham heran dengan sikap Ali.
“Siapa
mereka, Duham? Tanya Ali
“Iya,
siapa mereka, Duham? Kenapa mereka ada di Rumahmu? Baju mereka sangat lusuh.”
Tanya Salman dengan menilai buruk sahabat Duham yang merupakan bekas Budak.
“Mereka
sahabatku, mereka dulunya adalah budak, namun kerena kegigihan mereka untuk mau
berubah dengan kehidupan yang baik lagi, mereka akhirnya bisa melepaskan diri
dari perbudakan itu, dan melalui niat dan usaha, kami juga ingin sekali
mengembangkan usaha yang jika berhasil nantinya, bukan hanya untuk terus
mengembangkan usaha kita dengan mendirikan cabang-cabang namun nantinya aka
nada alokasi tersendiri bagi anak yatim dan sekolah-sekolah yang masih belum
layak, seperti itu wahai Ali dan Salman.” Jelas Duham mengenalkan kami secara
umum dan rencana yang akan kami lakukan.
“Budak?”
terkejutnya Ali mendengar pernyataan Duham
“wahai
Duham apakah kau yakin dengan semua niatmu? Bagaimana caranya kau bisa
melakukan hal demikian yang hanya bekerja sama dengan para mantan budak seperti
mereka? Mungin saja jika kau dan hanya kau tanpa mereka mau bekerja sama dengan
kami, yang jelas-jelas dapat memberikanmu modal dan kau bisa sukses jika kau
mau mengembangkannya.” Tutur Salman.
Terkejut
lagi-lagi kami rasakan dengan tuturan kedua sahabat Duham itu, kami merasa tak
dihargai dan dianggap tak ada nilainya di mata Ali dan Salman. Kami memang
mantak budak tapi kami tak serendah yang mereka ucapkan.
Duham tentu terkejut dengan kedua
sahabatnya itu, awalnya memang kami akan meminta bantuan kepada Ali dan Salman,
namun setelah mendengar ucapan Salman, Duham terdiam dan ia berkata “ memang pada awalnya kalian yang kami harapakan
untuk membantu kami, kami menyadari bahwa tak bisa hanya dengan modal nekad
usaha kami akan berhasil, tapi jika kalian tak sudi membantu kami, tak apa,
mungkin kan ada jalan lain nantinya. Ya sudah, lebih baik kita duduk terlebih
dahulu dan membicarakan semua ini, jangan sambil berdiri di dekat pintu seperti
ini. Mari Ali, Salman silakan duduk.”
Ali
menahan kami untuk duduk, lalu dia berkata “wahai Duham, alangkh lebih baiknya
jika kau ingin membahas lagi mengenai usahamu tadi, buatlah kelompok sendiri
antara aku, kami dan Salman dan mereka pun bisa membuat kelompok sendiri.”
Salman
melanjutkan pembicaraan “iya, betul sekal, jadi kalau kita membuat kelompok
sendiri bertiga, aku yakin kita pasti akan menuai kesuksesan yang besar.
Duham
tetap duduk bersama sahabatnya (mantan budak), mendengar ucapan Ali dan Salman
kami tetap duduk, meskipun Ali dan Salman kesal karena pendapatnya tak di
gubris oleh Duham dan kami, akhirnya kata-kata kasar keluar dari mulut Ali dan
Salman.
“Kenapa
Duham, kau tak menggubris omongan kita, kenapa kau lebih memilih mereka dari
pada kami, pasti otak mu sudah di racuni oleh budak-budak itu.” Salman.
Saat
itu Duham hanya ingin terdiam. “wahai budak yang menjijikan, buruk rupa,
jubahmu lusuh, racun apa yang kau berikan kepada Duham, hingga dia seperti ini?
Dasar budak-budak tak berguna, tolol, goblok.” Ali yang kemudian meludah di
depan sahabat Duham.
Lalu
Ali dan Salman meninggalkan kami tentunya dengan penuh emosi. Kami semua yang
berada di rumah Duham hanya bisa terdiam. Sekilas aku melihat Duham tertunduk
dan menetes setitik air dari matanya. Aku mendekat Duham dan memeluknya.
Kemudiam Duham mengusap air matanya.
“kita
harus tetap maju dengan niat kita yang awal, usaha kita mulai dari sekarang dan
jangan lupa berdoa, tanpa merekapun kita bisa.” Senyuman mengembang di bibir
Duham.
“Tapi
Duham, bagamana caranya, aku merasa tak semangat dan taka da gairah lagi
setelah kejadan ini.” Salah satu sahabat Duham (mantan budak).
Kemudian Duham menjawab
dengan lantang “Bukalah cermin hati kita lagi. Turunlah kita ke bawah.
Tengoklah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran kasih sayang
kita. Kalau hati terasa berat, andaikata kultur tak mengizinkan kita berbuat
hal itu, manakala ego terasa meningkat, bukankah paling tidak kita ganti rasa
hormat yang seharusnya kita berikan dengan kasih sayang pada mereka. Bila kita
tak mau mencium tangan mereka, maukah kita untuk paling tidak menyisihkan
sebagian rezeki yang kita peroleh sebagai rasa sayang kita pada mereka.”
Satu tahun kemudian, usaha kami
meningkat pesat, kami malah sudah mendirikan yayasan social yang bernama
SAHIBUNDUHAM. Suatu pagi saat mengerjakan tugas, sekilas aku melihat televisi dan
ada berita perampokan di rumah dan ternyata yang mengalami perampokan adalah
rumah Ali dan Salman.
Begitu tak ada kekalnya yang kita
miliki sekarang, tak ada gunanya jabatan yang kita sandang sekarang. Mulut
kita, hati kita dan tindakan kita jangan kau dasari dari jabatan dan harta yang
kita miliki sekarang. Satu detik kemudian tak ada yang tau apa yang terjadi.
Bukan dengan modal yang cukup da melimpah usaha kita akan berhasil. Tapi dari
niat kita yang bulat dan usaha sekecil apapun dapat mengubah yang ada di
sekeliling kita, tentunya menjadi yang lebih baik.
Tsalisa Yuliyanti


Posting Komentar