Ketika
sepatu kecil memopong tubuh ini
Lalu kaki membawanya
memalui keramik berdebu
Jalan, nampak seperti
terowongan
Namun tak bersekat
Hanya tiang yang
berjejer
Bagai among yang sedia
mematuhi inginya tamu agung
Terus berjalan melihat
ke arah langit
Bukan biru putih yang
menyegarkan mata
Nampak tercoreng
kehalusannya
Langit berlobang di
bawah genting
Kenapa?
Kaki melangkah dengan
keheranan yang terpikir
Terowongan itu
memilukan
Lalu Terowongan
memilukan berlalu
Berdiri tegak kokoh dan
penuh kebanggaan
Unggu warnamu
Apakah itu?
Tsalisa Yuliyanti


Posting Komentar